2014 in review

Desember 30, 2014 Tinggalkan komentar

Asisten statistik WordPress.com menyiapkan laporan tahunan 2014 untuk blog ini.

Berikut ini kutipannya:

Aula konser di Sydney Opera House menampung 2.700 orang. Blog ini telah dilihat sekitar 12.000 kali di 2014. Jika itu adalah konser di Sydney Opera House, dibutuhkan sekitar 4 penampilan terlaris bagi orang sebanyak itu untuk menontonnya.

Klik di sini untuk melihat laporan lengkap.

Iklan
Kategori:Uncategorized

A Foolish Letter

Desember 10, 2014 Tinggalkan komentar

Eyeshield 21 © Richiro Inagaki & Yusuke Murata

A Foolish Letter

T-Rated | Friendship/Angst | FutureFic | AR | Out of Character | Implied HiruMamo and JumonjiSara

Disclaimer: All publicity recognizable characters, setting, etc. are the property of their respective owners. The original characters and plot are the property of the author of this story. The author is in no way associated with the owners, creators, or producers of any previously copyrighted material. No copyright infringement is intended. There’s no money making here.



Dear Mamori dan Sara,

Maafkan aku karena pergi dengan hanya meninggalkan surat ini. Maafkan aku jika surat ini membuat kalian sedih, aku hanya tak bisa menahan keinginan untuk mengungkapkan perasaanku. Setidaknya aku bisa sedikit lega jika kalian mengetahui isi hatiku.

Teman-temanku, aku sayang kalian. Dan itu artinya, aku harus merelakan kalian jika itu akan membuat kalian bahagia. Aku mengerti, persahabatan ini takkan berlangsung selamanya, betapa pun kita menginginkannya. Semuanya indah ketika kita bersama, hidup ini terasa mudah, dan impian kita terlihat begitu dekat. Tawa dan tangis yang kita bagi bersama tak akan pernah aku lupakan. Kenangan itu selamanya akan menjadi penyemangat hidupku, sesuatu yang menepuk pundakku ketika aku kesepian.

Kini kalian telah menemukan hal yang lebih bersinar daripada persahabatan. Seorang kekasih yang jauh lebih menyayangi kalian, yang bisa memberikan apa yang tidak bisa diberikan seorang sahabat. Mereka yang memberikan perasaan yang begitu berwarna pada kalian, yang jika dibandingkan dengan tawa dan tangis yang kita bagi bersama, kita tak ada apa-apanya. Bersama dengan kekasih kalian, kalian bahkan tak memerlukan impian.

Sejak dulu, aku tahu, suatu saat nanti mereka pasti akan membawa kalian pergi dariku. Aku tahu, jika seseorang mendapatkan belahan jiwanya, maka ia harus rela kehilangan sahabatnya. Bahkan sejak kalian belum menemukan mereka, aku sudah mempersiapkan diri untuk kehilangan kalian. Untuk kembali kepada kesendirianku. Karena aku tahu, aku tidak bisa seperti kalian. Aku takkan pernah menemukan pasangan jiwaku. Aku diciptakan tak utuh.

Mamori, Sara, aku sayang kalian.

Aku tahu kalian pernah kesal padaku karena selalu menganggap buruk kekasih kalian; Hiruma dan Jumonji. Padahal aku pun tahu kalau sebenarnya mereka adalah orang-orang yang baik. Sejujurnya waktu itu aku takut kalau saat ketika kalian lebih memilih mereka daripada aku akan segera tiba. Aku cemburu ketika kalian tidak bisa bermain denganku karena jadwal kencan kalian. Hanya kalianlah yang aku punya. Hanya kalian yang dapat membuatku tertawa lepas juga menangis dengan keras. Aku takut kalau aku tidak bisa bertahan tanpa kalian.

Tapi aku menyayangi kalian. Aku sangaaat menyayangi kalian. Jadi jika mereka memang dapat membuat kalian lebih bahagia, aku akan pergi. Aku akan mundur perlahan-lahan, aku tidak akan mengganggu kemesraan kalian lagi. Jika kalian bahagia maka aku pun akan baik-baik saja. Sebelum bertemu kalian, aku selalu sendirian dan aku baik-baik saja, setidaknya aku bertahan hidup. Kali ini pun, ketika akhirnya kalian pergi dariku, aku pasti akan bertahan, mungkin. Haha.

Kadang aku berandai-andai, jika kita bisa terus menjalani hari-hari kita seperti masa muda kita. Pergi ke sekolah, bercanda di kelas, bermain sepulang sekolah, menginap di akhir pekan. Ah, pasti akan menyenangkan, aku takkan bosan. Tapi kalian mungkin akan muak. Sejak awal kita memang terlalu berbeda. Aku, Ako yang membosankan, yang kutu buku, yang tidak suka keramaian, yang tidak punya rasa percaya diri. Aku yang seperti ini berani berteman dengan kalian; Mamori si Malaikat Deimon dan Sara si anak berprestasi. Seharusnya aku bahkan tidak berani berharap untuk menggenggam tangan kalian selamanya.

Kalian pernah meyakinkanku kalau kalian tak akan berubah. Kalau setelah kalian menikah, kita akan tetap bersama, aku takkan merasakan perbedaannya. Aku hanya mengangguk, sementara di dalam hati, aku tak percaya kata-kata itu. Tapi aku mengerti. Sudah kubilang kalau aku sudah mempersiapkan diri sejak lama bukan?

Namun rupanya persiapan seperti apa pun tidak bisa mengurangi rasa sakitnya. Perasaan sayangku pada kalian sahabat-sahabatku, ternyata tak bisa menghentikan rasa cemburu ini. Kalian yang berbahagia tanpa aku. Tapi seperti janjiku, ketika aku sudah memastikan kalau kalian bahagia, aku akan pergi. Aku akan menghilang karena aku takut suatu saat nanti aku tak bisa menahan perasaanku. Bisa-bisa aku menghancurkan kebahagiaan kalian karena keegoisanku. Aku takkan membiarkan hal itu terjadi. Jadi biarlah aku yang pergi.

Selamat tinggal Mamori, Sara. Kalian mungkin bosan mendengarnya tapi … aku menyayangi kalian.

XoXo,

Ako


A Foolish Letter –


Walaupun Ako memang sangat ingin mengutarakan perasaannya itu, pada akhirnya ia melipat surat yang sudah ia buat dan menyimpannya di dalam kotak. Bersama surat-surat lainnya yang tidak akan pernah sampai kepada penerima yang dimaksud. Menulis surat-surat itu membuatnya sedikit lega, memperpanjang usianya yang tidak begitu panjang. Gadis itu pun tersenyum kecil. Ia membayangkan wajah kedua sahabatnya dan berbisik, “Ah, aku akan sangat merindukan kalian”.

Seraya menahan air matanya agar tidak tumpah, ia pun menaruh kotak berisi surat tersebut di bawah ranjang tidurnya. Ako mengambil napas panjang sambil merapikan make-up-nya. Hari ini adalah hari pernikahan sahabatnya tersayang, setidaknya ia tidak boleh merusak pemandangan bukan?

Pada pertengahan musim semi, di hari yang indah ini, ia akan memeluk erat sahabatnya, mengucapkan “omedettou” yang baginya sama saja dengan “sayonara”.



A/N: Ehem, sebenernya saya udah nulis fic ini dari taun kemaren. Setelah beberapa saat yang lalu saya menerima berita yang sangat mengejutkan tentang kedua sahabat tercinta saya yang akan segera menikah, saya langsung teringat fanfic ini. Setelah saya baca lagi, perasaan saya sekarang persis Ako (yang sebenernya saya nggak tau karakternya kaya gimana :p).

Anyway, RnR? 😀

Diproteksi: The Dancing Demons

Desember 10, 2014 Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Kategori:Fiction

Diproteksi: If Only

Maret 22, 2014 Masukkan password Anda untuk melihat komentar.

Konten ini diproteksi dengan password. Untuk melihatnya cukup masukkan password Anda di bawah ini:

Kategori:Diary

2013 in review

Januari 1, 2014 1 komentar

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A New York City subway train holds 1,200 people. This blog was viewed about 5,400 times in 2013. If it were a NYC subway train, it would take about 5 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

Kategori:Uncategorized

Extrication

Desember 7, 2013 Tinggalkan komentar

Extrication

Angel Beats © Jun Maeda

—Romance/Angst, Yuzuru Otonashi/Yuri Nakamura, AR (almost AU), maybe OoC—

Disclaimer: All publicity recognizable characters, setting, etc. are the property of their respective owners. The original characters and plot are the property of the author of this story. The author is in no way associated with the owners, creators, or producers of any previously copyrighted material. No copyright infringement is intended. There’s no money making here.


—Yuzuru—


Sinar lemah matahari yang beringsut pulang menambah kepanikan Yuzuru Otonashi. Pemuda berseragam lusuh itu terengah di tangga darurat gedung sekolah. Beberapa kali ia terjatuh karena tergesa. Tubuhnya penuh luka, seragam coklatnya mungkin sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Namun ia tak peduli. Yang ia pikirkan saat ini hanyalah gadis yang sedang berdiri di atap gedung lain.

“Yuri ….”

Yuzuru memukul-mukul dadanya yang terasa perih. Sensasi terbakar karena lalu lintas udara dari dan ke paru-parunya membuatnya hampir menyerah. Tapi bayangan gadisnya yang tersayang sedang bernegosiasi dengan Dewa kematian membuat Yuzuru kembali menggerakkan tungkainya. Ia berlari dan berlari menuruni tangga tersebut.

Dalam hati ia berteriak frustasi, memohon agar Yuri tidak mati. Gadis itu kuat, semua orang tahu itu. Namun hanya Yuzuru yang tahu, kalau terkadang anak perempuan itu kehilangan pegangannya akan dunia ini. Kalau Yuri sering kali hampir membunuh dirinya sendiri, bahkan tanpa ia sadari. Dan kalau hanya Yuzuru yang bisa menariknya kembali ke akal sehatnya.

Seharusnya tadi ia tidak meninggalkan Yuri sendirian. Bagaimana ia bisa begitu bodoh? Bagaimana ia bisa tidak menyadari tingkah ganjil gadisnya hari ini? Bagiamana bisa ia lebih peduli kepada gadis lain yang bukan siapa-siapanya?

“Yuri—”

Yuzuru terus menerus berdoa akan keselamatan Yuri sembari mengutuki dirinya sendiri yang tidak berada di sisi gadisnya saat ini. Ia sudah berjanji kalau selamanya, ia akan berada di sisi Yuri. Ia akan menjaga anak perempuan itu tetap hidup. Ia telah menjanjikan masa depan. Dan ia tidak ingin mengingkari janji itu.

“—kumohon.”


—Yuri—


Di tepi atap sebuah gedung sekolah tua, seorang anak perempuan berdiri tegang. Kedua bola matanya bergerak-gerak gelisah sementara kerumunan manusia di bawah gedung itu semakin membesar. Matahari senja membuat segalanya terlihat sepia. Rasanya waktu pun berjalan melambat, membuat Yuri semakin tersiksa dengan pertentangan batinya.

Tep.

Kakinya maju satu langkah … hanya untuk ditarik kembali. Gadis itu tak tahan lagi. Mimpi buruk yang menghampirinya setiap malam, perasaan bersalah yang merobek-robek jiwanya, semua itu membuatnya gila.

Selama ini Yuri bisa bertahan hanya karena kehadiran lelakinya; Yuzuru. Yuzuru yang tersayang. Satu-satunya alasan Yuri bertahan untuk menghirup udara tajam setiap hari. Hanya bayangan Yuzuru yang bisa membuat dunianya teralihkan dari bayangan tiga anak kecil yang ditembak di depan gadis itu.

“Yuzuru ….”

Sang Otonashi muda mampu membuat dunia tanpa warna milik Yuri menjadi tempat yang layak untuk ditinggali. Namun kini, lelaki itu telah melangkahkan kakinya keluar dari dunia Yuri. Melihat senyum berhiaskan tatapan sayang Yuzuru pada gadis lain membuat jiwanya hancur. Lelaki yang ia pikir akan selalu ada untuknya itu kini lebih mementingkan gadis lain. Kini sudah tidak ada lagi yang tersisa bagi Yuri. Ia sudah tidak punya apa-apa—siapa-siapa. Yuri sudah tidak punya alasan untuk bertahan lagi.

Yuzuru kini lebih memilih Kanade. Gadis yang lebih manis darinya. Gadis yang lebih kuat sekaligus lebih lemah darinya. Yuzuru pasti sudah lelah akan Yuri. Yuri yang berpura-pura kuat. Yuri yang berpura-pura ceria. Yuri yang harus selalu dilindungi. Yuzuru pasti sudah tidak tahan lagi.

“Yuzuru, aku—”

Yuri mengerti. Gadis itu tahu benar kalau Kanade memiliki masa lalu yang jauh lebih mengerikan dari dirinya. Yuri juga tahu kalau Kanade menjalani hidupnya tanpa berpura-pura. Kanade tidak berpura-pura kuat seperti dirinya, karena Kanade memang kuat. Yuzuru tidak akan kelelahan jika bersama Kanade.

Yuri mengerti. Ia juga akan merelakan Yuzuru, menyerahkan pemuda itu kepada Kanade dengan satu syarat; jika dirinya sudah tidak ada lagi di dunia ini.

“—kurasa, aku mengerti.”


—Yuzuru—


Yuzuru terus berlari tanpa menghiraukan otot kakinya yang menjerit kesakitan. Ia lebih mempedulikan hatinya yang terus memanggil nama gadisnya. Sore ini ia menemui Kanade, gadis misterius yang belum lama ini menjadi teman barunya. Gadis yang rapuh, mengingatkan Yuzuru pada gadisnya sendiri. Ketika sedang menghibur gadis mungil yang sering dipanggil Tenshi itu, Hinata—temannya—menghubungi telepon genggamnya.

Jantung Yuzuru seakan melesak ke tenggorokan ketika Hinata mengabarinya tentang Yuri. Lututnya tiba-tiba lemas, Kanade sampai harus menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Ia tidak mau percaya kabar itu. Di sisi lain, ia yang paling tahu kalau Hinata tidak akan berbohong. Yuri … Yurinya yang tersayang sedang berdiri di tepi atap gedung sekolah lama yang akan segera dihancurkan. Gadisnya itu bisa mengakhiri hidupnya kapan saja.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Kanade, ia melepaskan diri dari gadis itu. Yuzuru pun berlari. Ia melesat kesetanan menuju seseorang yang ia pikir akan selalu ada di sisinya, termasuk di masa depannya. Membayangkan masa depan tanpa Yuri membuat dunia lelaki itu kehilangan warna.


—Yuri—


Hari semakin gelap, begitu pun dengan hati Yuri yang ditelan awan hitam. Di tepi gedung tua itu, dibelai angin musim gugur, Yuri Nakamura kembali melangkahkan kakinya. Sudah tidak ada lagi langkah mundur yang diambilnya. Dengan ini hanya perlu satu langkah lagi baginya untuk mencapai pelepasan. Untuk menghilang, mengakhiri rasa sakit yang selama ini ia tahan.

Dari tempatnya sekarang, Yuri bisa melihat murid-murid sekolahnya yang belum pulang sedang berkumpul di bawah gedung. Ia tidak bisa melihat siapa saja yang ada di sana; siapa saja yang akan menyaksikan kematiannya. Namun ia tahu kalau Yuzurunya yang tersayang tidak ada di sana. Yuzuru pasti saat ini sedang bersama Tenshi. Mata gadis ceria yang dulu bersinar itu pun menggelap.

“Sudah cukup,” gumamnya. Suaranya bergetar sementara titik air mata sedang menghitung waktu untuk jatuh dari ujung dagunya.

Diiringi desahan putus asa, satu langkah terakhir pun diambil oleh gadis itu. Ia sudah menetapkan takdirnya. Di dunia ini Yuri sudah tidak punya tempat lagi. Seharusnya ia sudah meninggalkan dunia ini sejak bertahun-tahun lalu, bersama ketiga saudaranya yang tersayang.

Sayonara, Yuzuru ….”

Yuri Nakamura, otomatis tersenyum ketika nama menyebutkan nama sang kekasih untuk yang terakhir kalinya. Ia menutup matanya sambil membiarkan tubuhnya meluncur. Gadis itu melayang bebas di udara, melepaskan segalanya, menanti pelepasan yang diharapkannya sejak lama.


—Yuzuru—


Tep.

“Yu—”

Bruakkkk!

Yuzuru Otonashi sampai di depan gedung lama sekolahnya tepat ketika gadisnya meluncur ke tanah keras. Tubuh Yuri menghantam permukaan padat yang dengan segera menghancurkan tengkoraknya. Pecahan tulang yang menusuk otaknya seketika menghentikan tubuhnya merasakan apa-apa. Sementara tulang lehernya yang patah bertugas untuk mencabut nyawanya, tepat di hadapan Yuzurunya yang tersayang.

Kepala Yuri hancur sementara tangan dan kakinya tertekuk tidak wajar. Darah terus mengalir dari semua luka di tubuhnya, seakan berusaha menenggelamkan dirinya sendiri. Semua orang yang berkumpul di depan gedung lama itu berteriak histeris. Dari kejauhan terdengar suara mobil polisi yang terlambat datang. Sementara Yuzuru … tidak ada suara yang keluar dari bibirnya.

Denial. Sang Otonashi sedang berada dalam fase penolakan. Ia berdiri mematung, menunggu pemandangan yang dianggapnya ilusi itu menghilang.

Tapi ditunggu berapa lama pun, pemandangannya tidak berubah. Jerit ngeri para siswi yang berada di sana, bisik-bisik prihatin, juga desahan kecewa yang dibuat-buat mulai membuat Yuzuru naik darah.

Fase kedua; anger.

“Yuri, jangan main-main. Cepat bangun sialaaan! Gadis bodoh!”

Yuzuru meneriaki mayat Yuri seperti orang gila. Ia memukul siapa saja yang mencoba menariknya mundur, menjauhi jenazah kekasihnya. Tidak, ia belum selesai.

“Yuri ….”

Tenggorokan Yuzuru tercekat sementara air mata mulai menuruni pipinya yang memerah. Ia menjatuhkan lutunya, meratapi gadisnya. Dalam duka itu Yuzuru mulai melihat hal yang tidak mungkin; dada gadisnya masih naik turun. Gadisnya masih bernapas!

Langsung saja ia meraih kekasihnya, berusaha memompa dada Yuri dan memberinya pernapasan buatan. Jika ia terus melakukannya, mungkin Yuri masih bisa selamat. Mungkin Yuri masih bisa membuka matanya. Mungkin Yuri masih bisa tersenyum, sedetik saja. Yuzuru mengkhayalkan harapan. Fase ketiga—bargaining.

Tim medis yang datang bersamaan dengan polisi menarik Yuzuru dari tubuh Yuri. Sekali lihat pun, sudah jelas kalau Yuri tidak punya harapan untuk diselamatkan. Depression. Yuzuru lalu mencapai fase keempat. Lelaki itu meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari orang-orang yang menatapnya kasihan. Ia mencoba berlari menuju gedung sekolah lamanya. Yuzuru berniat melakukan hal yang sama dengan Yuri, ia ingin menyusul gadis itu secepatnya.

Yuzuru tenggelam dalam keputusasaan dalam fase terakhirnya; acceptance. Ia sudah menerima kematian Yuri. Namun lelaki itu tidak mau hidup di dunia yang tidak ada Yuri.

Selama ini, ia pikir ia telah menyelamatkan Yuri. Selama ini, ia pikir mereka berdua akan terus bersama, sampai kapan pun. Selama ini, ia pikir mereka bisa bahagia. Terlepas dari masa lalu masing-masing, mereka akan saling melindungi. Namun kini kebahagiaannya, masa depan itu, hanyalah ilusi. Gadisnya sudah mati.

Yuri sudah mati.

Sambil merapalkan kalimat itu seperti mantra, Yuzuru terus berlari menuju atap gedung. Orang-orang yang mengejarnya tertinggal jauh di belakang. Yuzuru melesat meninggalkan mereka. Ia tak peduli akan apapun lagi. Hal yang paling diinginkannya, sesuatu yang dilindunginya mati-matian kini sudah lenyap. Yang tersisa baginya sekarang sama sekali tidak ada artinya tanpa Yuri di sisinya. Ia pun berlari meninggalkan semua, berlari mencari pelepasannya sendiri.


—End—


A/N: Moshi-moshi, minna-san. Ehem, saya udah lama banget nggak nulis nih. Jadi, mohon maaf atas segala kekurangan fanfic ini yaaaa. Bagi yang pernah baca tulisan saya sebelumnya, pasti nyadar kalo saya kembali ke gaya lama saya, di mana deskripsi mendominasi. Muahahaha, tadinya saya pengen nyelipin dialog biar seimbang, tapi beneran nggak tau harus gimana nyelipinnya. Anyway, thanks for reading! Kritik dan saran sangat diharapkan~ ^^

Eyeshield 21 Ghost Stories: Confined

Desember 7, 2013 3 komentar

“Kalian tahu, katanya di salah satu apartemen tersebut pernah terjadi sebuah pembunuhan. Seorang pria tewas dengan luka tembak di kepalanya. Polisi tidak dapat menemukan senjata yang digunakan oleh tersangka maupun sang pembunuh itu sendiri. Sama sekali tidak ada petunjuk tentang pelaku. Sidik jari, jejak kaki, tanda-tanda perampokan, perkelahian, tidak ada sama sekali. Bahkan tanda-tanda bunuh diri pun tidak. Ruangan tempat terjadinya hal mengenaskan tersebut juga tertutup rapat, terkunci dari dalam. Pada akhirnya kasus itu pun ditutup setelah lima tahun tak mengalami kemajuan.”

Yoichi Hiruma mendengarkan pembicaraan sekelompok gadis SMA yang berjalan di depannya. Gadis-gadis itu berisik sekali, pikirnya. Namun pembicaraan mereka menarik perhatian si akuma. Hiruma pun memandang gedung apartemen kumuh di pinggir gang yang dilaluinya. Gedung bertingkat dua itu memang terlihat tidak menyenangkan. Cat temboknya yang berwarna putih sudah berubah kekuningan, penuh dengan noda jamur yang hijau kehitaman. Cat hitam pada besi pagar yang menghiasi beranda lantai dua, termasuk tangganya, tidak terlihat lebih baik. Cat itu sudah mengelupas di sana-sini, memperlihatkan lapisan cat lain yang berwarna merah.

“Kekekekeke …. Tidak buruk,” gumam Hiruma. Seringai khas setan itu terpasang di wajah runcingnya. Sore ini Hiruma memang sengaja berjalan-jalan, mencari tempat yang sepi dan cukup tersembunyi untuk ditinggalinya. Sudah cukup banyak orang yang mengetahui tempat tinggalnya sekarang dan hal itu tidaklah bagus. Ia sangat tidak suka jika privasinya diinvasi orang lain, bahkan oleh teman baiknya sekalipun.

Melihat lebih teliti, Hiruma bisa melihat cahaya neon putih dari beberapa jendela kamar. Setidaknya hanya tiga dari delapan kamar di gedung itu yang berpenghuni. Itu pun hanya di lantai satu. Jika pembicaraan gadis-gadis tadi memang benar adanya, maka tempat itu pasti dihindari orang. Sempurna, pikirnya. Ia akan menyewa dua kamar di lantai dua, satu untuk tempat tinggalnya, satu lagi untuk gudang persenjataan. Tanpa banyak pikir lagi, ia pun menemui pemilik gedung yang dengan senang hati menyewakan dua kamar kepadanya. Ia tidak perlu mengancam untuk mendapatkan harga murah ataupun untuk menghindari pertanyaan soal penggunaan kedua kamar tersebut.

Sekilas, Hiruma teringat akan pria yang terbunuh di sana. Entah mengapa perasaannya mengatakan kalau keputusannya tinggal di apartemen tersebut bukanlah hal bijak. Namun ia tidak mempercayai hal bernama perasaan. Yang ia percayai hanyalah logika dan instingnya. Jadi Hiruma menyingkirkan perasaan itu dan mulai memindahkan barang-barangnya. Sang Komandan Neraka tidak pernah menyangka jika takdirnya akan begitu berbeda jika ia mengindahkan perasaan yang malah dibuangnya.

.


.

Eyeshield 21 © Richiro Inagaki & Yusuke Murata

Eyeshield 21 Ghost Stories: Confined

T-Rated | Mystery/Supernatural | Chara Death | Alternate Reality | Implied HiruMamo

Disclaimer: All publicity recognizable characters, setting, etc. are the property of their respective owners. The original characters and plot are the property of the author of this story. The author is in no way associated with the owners, creators, or producers of any previously copyrighted material. No copyright infringement is intended. There’s no money making here.

.


.

Silau. Matahari sedang kesal rupanya, ia mengusir semua awan sehingga dirinya bisa menyentuh langsung semua makhluk hidup yang ada di Deimon siang itu. Menyentuh mereka dengan panas menyengat dan cahaya yang menyilaukan. Yoichi Hiruma menyipitkan matanya ketika berjalan menuju apartemen barunya. Ia baru saja menyita beberapa senjata baru dan akan menyimpannya di gudang persenjataannya yang baru pula.

“Kalian tahu, katanya di salah satu apartemen tersebut pernah terjadi sebuah pembunuhan. Seorang pria tewas dengan luka tembak di kepalanya ….”

Setiap kali melangkahi gerbang gedung kumuh tempat ia menyewa kamar, Hiruma selalu terngiang akan kalimat yang pernah didengarnya waktu itu. Setiap kali pula ia menyingkirkan pikiran tidak menyenangkannya lalu melangkah mantap dan menaiki tangga.

“Keh, rupanya budak-budak itu sudah selesai,” katanya sambil menyeringai. Ia memperhatikan ruangan yang pintunya baru saja ia buka. Ruangan itu bersih dan rapi, barang-barangnya pun terletak sesuai keinginannya. Puas atas pekerjaan budaknya, ia membuka pintu kamar sebelah. Senjata-senjata kesayangannya tersimpan rapi di sana. Namun bukan budak-budaknya yang membereskan hal itu, ia tidak akan membiarkan orang lain menyentuh anak-anaknya. Ia sendiri yang merapikan dan membersihkan mereka.

Selesai menyimpan anak-anak barunya, Hiruma kembali ke kamar. Ia harus memikirkan strategi lain untuk menghadapi Seibu Wild Gunmen di pertandingan selanjutnya. Baru saja lelaki itu duduk di tepi tempat tidur, pintunya diketuk lembut.

Tok, tok, tok.

Mamori Anezaki mengetuk pintu sambil merapatkan jaket tipisnya. Hari begitu terang dan panas matahari menusuk kulitnya yang sedikit terekspos sejak tadi. Namun begitu memasuki gerbang gedung apartemen Hiruma, ia malah kedinginan. Rasanya seperti memasuki dimensi lain yang sedang menanti musim dingin berakhir.

Tak lama kemudian, pintu bercat hitam di hadapan manajer tim Deimon Devil Bats itu pun terbuka, memperlihatkan sepasang mata hijau cemerlang milik Hiruma. “Kau terlalu cepat dua menit, Manajer Sialan.” Hiruma berkata sambil menggeser tubuhnya dari balik pintu; mempersilakan Mamori masuk.

“Mou, jangan panggil aku seperti itu! Ma-mo-ri. Namaku tidak susah diingat kan?” kata Mamori sambil melangkahkan kakinya ke ruangan yang terasa lebih dingin lagi.

“Che, terserah, Ma-mo-ri Sialan,” goda Hiruma.

Lelah berdebat, Mamori pun mengabaikan godaan kaptennya. Tanpa sopan santun yang tidak perlu, pemilik mata biru jernih itu duduk di kursi yang diletakkan di samping tempat tidur Hiruma. Kamar sempit itu hanya mengijinkan Hiruma mengisinya dengan tempat tidur, meja, kursi, lemari, mini bar, dan sebuah televisi lengkap dengan pemutar videonya. Namun hal itu sudah lebih dari cukup bagi Hiruma yang jarang menghabiskan waktu di satu tempat saja. Bagi lelaki itu, tidak ada yang namanya rumah.

“Jadi, apa kau sudah mendapatkan strategi baru yang bisa kita pakai untuk melawai Kid dan Tetsuma, Hiruma-kun?” tanya Mamori.

“Beberapa, kau sendiri?” jawab Hiruma sambil mengambil dua kaleng Cola dari mini bar-nya.

Mamori meraih kaleng yang sudah dibuka oleh Hiruma dan meneguknya. Bulu kuduknya berdiri ketika cairan dingin berkafein itu melewati tenggorokannya. Heran, apakah ia sakit? Bagaimana bisa ia kedinginan saat hari sedang panas-panasnya?

“Beberapa, tidak ada yang menjanjikan,” kata Mamori kemudian. Kalimatnya sedikit bergetar.

Hiruma meneguk minumannya tanpa mengalami hal seperti Mamori. Bahkan dilihat dari peluh di dahinya, lelaki itu tidak mungkin kedinginan. “Tunjukkan padaku.” Hiruma berkata sambil duduk di tepi tempat tidurnya, di seberang sang manajer—satu-satunya manusia bukan budak yang mengetahui tempat tinggal barunya.

Hiruma dan Mamori pun larut dalam pembicaraan mereka tentang strategi masing-masing. Mamori mencoret-coret buku yang dibawanya, matanya bolak-balik memandang buku dan mata Hiruma. Ia mencatat beberapa hal yang dikatakan kaptennya, menggaris bawahinya dengan penekanan yang tidak perlu.

“Ah!” Mamori sedikit terkejut. Pensil mekaniknya terlepas dari genggamannya karena ia menekannya terlalu keras. Benda itu jatuh menggelinding lalu berhenti di kolong tempat tidur Hiruma. Mamori berlutut untuk meraihnya, kemudian tersentak ketika tangannya menyentuh lantai.

Sesaat ia merasakan cairan lengket di tangannya, ruangan itu berubah gelap dan berbau amis, namun hanya sesaat. Mamori tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, ia pun membeku di tempat dengan ekspresi heran sambil memandangi tangannya yang sama sekali tidak basah.

“Jangan malah melamun, Manajer Sialan,” kata Hiruma yang melihat Mamori bengong dan kini menatap lantai. Ketika Mamori tak juga menjawabnya, ia meraih lengan gadis itu, berniat membantunya berdiri.

“Hi-Hiruma-kun … apa—” Mamori tergagap, kaget akan sentuhan Hiruma.

Sedang alis sang Komandan Neraka tertekuk. Lengan Mamori begitu kaku. Ia pun menyentuh tangan gadis itu … dingin. “Oi, kau sakit?” tanyanya kemudian.

“T-tidak. Aku tidak apa-apa,” jawab Mamori sambil berdiri. Napasnya tersengal, ia gugup. Perasaan aneh seakan menekan dadanya.

“Ayo.” Hiruma berdiri lalu memakai jaketnya, ia mengambil tas Mamori dan menarik lengan sang manajer. Gadis itu separuh diseret menuju pintu keluar. Tidak ada protes dari Mamori, ia hanya mengikuti Hiruma keluar dari sana. Mereka menuruni tangga dan melangkah keluar gerbang yang setengah terbuka.

Rasa dingin di tubuh Mamori menghilang seketika setelah mereka berada di gang. “Hiruma-kun, aku baik-baik saja.” Mamori berkata, tangannya menahan Hiruma.

“Kau tidak baik-baik saja, wajahmu tadi pucat sekali. Kalau kau tumbang di tempatku, aku bisa repot. Keh!” Hiruma mendengus. “Biar ibu sialanmu saja yang mengurusmu,” lanjutnya kemudian. Ia pun melangkah ke arah Halte bus, masih menyeret Mamori bersamanya.

Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di Halte. Keduanya menunggu bus dalam keheningan. Ketika bus Mamori datang dan gadis itu menaikinya, Hiruma hanya berkata kalau ia akan membunuh Mamori jika esoknya ia bolos latihan karena sakit. Mamori tersenyum tipis, Hiruma hanya menyuruhnya untuk beristirahat dengan baik.

Jaa.” Mamori melambai ke jendela bus, ke tempat seorang pemuda tinggi kurus menunggu busnya pergi. Ia memperhatikan sosok Hiruma yang entah mengapa terlihat begitu jauh. Ketika bus mulai berjalan dan figur itu benar-benar menjauh, Mamori merasakan firasat aneh. Seperti saat itu akan menjadi saat terakhir kalinya ia melihat sang akuma.

.


Confined—


.

Yoichi Hiruma bergeming di Halte sampai bus yang membawa Mamori sudah tidak terlihat lagi. Kedua tangannya ia masukkan ke saku jaketnya, tempat dua senjata kesayangannya berada. Di saku kanannya, sebuah M-16 berisi peluru karet siap siaga menerima perintah. Sementara di saku kirinya, pistol yang sama berisi peluru asli tidak kalah siapnya. Hiruma memang selalu membawa kedua benda itu ke mana-mana. Ia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, apalagi dengan begitu banyak musuh yang ia punya.

Hari ini, sudah tidak terhitung berapa kali ia meraba kedua benda tersebut. Ia merasa tidak aman. Bukan logika maupun insting yang mengatakan kalau ia berada dalam bahaya, namun perasaan. Oleh karena itu Hiruma merasa konyol, seharusnya ia tidak boleh cemas seperti saat ini.

Tanpa menarik kembali kedua tangannya, lelaki itu pun berjalan menuju apartemennya. Langkah panjang miliknya menggema di jalan itu, padahal banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan raya di belakangnya. Suara kesibukan tersebut seharusnya bisa meredam suara langkah Hiruma. Entahlah, mungkin hanya dirinya yang mendengar suara itu. Ia seperti sedang berada di dimensinya sendiri.

Tak sampai sepuluh menit, Hiruma sudah bisa melihat kamar apartemennya di lantai dua. Hari sudah agak sore dan awan-awan sudah kembali menutupi langit. Matahari tak seganas beberapa jam yang lalu.

Tep.

Tiba-tiba Hiruma menghentikan langkahnya di depan gerbang gedung apartemennya. Ia menyipitkan mata, berusaha fokus pada jendela kamarnya. Kedua bola hijaunya membulat ketika ia menyadari sesuatu; lampu kamarnya menyala. Hiruma tidak ingat sama sekali kalau ia menyalakan lampu kamar itu tadi.

Pegangannya pada M-16 di saku kirinya kian mengerat. Perasaannya benar-benar tidak enak. Ia berjalan kembali, perlahan, berusaha meredam suara langkahnya. Jantungnya berdetak kencang ketika ia tiba di depan pintu bercat hitam miliknya. Hiruma memutar kenop pintu seakan sudah mengetahui kalau pintu itu tidak terkunci. Dengan satu sentakan lembut, pintu itu pun mengayun ke dalam. Padahal Hiruma yakin ia sudah mengunci pintu tersebut sebelumnya. Dan keyakinannya tidak pernah salah.

Hiruma melangkahkan kaki kanannya sementara tangan kirinya melepaskan pengaman pistolnya; bersiap untuk menembak.

Tep.

Ia berhenti bahkan sebelum memasuki ruangan itu sepenuhnya. Matanya memandang tidak percaya. Napasnya berubah cepat sementara ia mengeluarkan tangan kirinya bersama M-16 yang belum pernah dipakainya sama sekali.

Ia mengacungkan pistolnya ke arah sesuatu yang ganjil di hadapannya; punggung tegap yang sedang bersandar di kursi. Punggung itu, punggung milik lelaki berambut spike blonde. Sosok itu memakai pakaian yang sama dengan Hiruma, memiliki figur yang menyerupai dirinya, juga berada dalam posisi favoritnya.

Tangan Hiruma bergetar hebat, giginya rapat, rahangnya kaku. Sementara lelaki di depannya perlahan menyadari kehadiran orang lain di ruangan itu. Hiruma maju, menutup pintu di belakangnya, dan bersiap. Bersiap akan hal mustahil apa pun yang akan menyambutnya; lelaki di hadapannya menengokkan kepalanya, memandangnya tidak percaya dengan wajah juga ekspresi yang serupa dengan Hiruma, dan—

—dor!

Keterkejutan luar biasa membuat Hiruma menarik pelatuknya. Timah panas menembus kepala lelaki itu, membuatnya terkulai lemas, tubuh jangkungnya merosot ke lantai dengan mata hijau tanpa sinar kehidupan. Cairan otak menodai beberapa kertas strategi yang berserakan di atas meja.

Sementara Yoichi Hiruma merasa ia hampir gila. Siapa lelaki yang mirip dengannya itu? Mengapa ia bisa berada di dalam ruangannya? Melihat dua buah senjata yang terjatuh dari tangan lelaki tadi, senjata yang sama dengan miliknya, Hiruma merasa dunia di sekelilingnya berputar hebat.

Senjatanya sendiri jatuh bersama dengan lengan kirinya yang seolah tak bertulang. Lelaki iblis itu menengadahkan kepalanya, melihat lampu neon putih di langit-langit yang cahayanya begitu terang. Silau ….

.

Silau. Matahari sedang kesal rupanya, ia mengusir semua awan sehingga dirinya bisa menyentuh langsung semua makhluk hidup yang ada di Deimon siang itu. Menyentuh mereka dengan panas menyengat dan cahaya yang menyilaukan. Yoichi Hiruma menyipitkan matanya ketika berjalan menuju apartemen barunya. Ia baru saja menyita beberapa senjata baru dan akan menyimpannya di gudang persenjataannya yang baru pula.

“Kalian tahu, katanya di salah satu apartemen tersebut pernah terjadi sebuah pembunuhan. Seorang pria tewas dengan luka tembak di kepalanya ….”

.


Confined—


.

Epilog.

Yoichi Hiruma memasuki kamar apartemennya seusai mengantar Mamori ke halte bus. Ia duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Mamori setelah menyalakan lampu. Sambil memijit kepalanya yang sedikit berdenyut, Hiruma memperhatikan beberapa kertas strategi yang baru dibahasnya bersama sang Angel of Deimon. Merasa kepalanya semakin berdenyut, lelaki iblis itu menaikkan satu kakinya ke atas meja dan bersandar. Ia menumpukan seluruh berat tubuhnya pada sandaran kursi.

Masih memijit kepalanya yang semakin sakit, Hiruma tiba-tiba merasakan hawa lain di ruangannya. Punggungnya seperti ditatap tajam oleh seseorang. Jantungnya berdebar dan ia pun memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. Saat ini lelaki itu benar-benar merasakan kehadiran orang lain di belakangnya. Bagaimana bisa? Ia yakin telah mengunci pintunya tadi. Dan keyakinannya tidak pernah salah.

Merasakan sosok di belakangnya semakin mendekat, Hiruma memberanikan diri menengokan kepalanya. Ia pun di sambut oleh pemandangan yang mustahil. Namun sebelum ia sempat melakukan sesuatu atau bahkan berpikir …

… dor!

Sebutir peluru melubangi kepalanya, mendorong cairan otaknya keluar dari lubang itu. Pandangannya seketika menjadi putih. Putih yang begitu terang. Silau ….

.


End.


.

A/N:

Pernah dengar tentang manusia yang terbelah menjadi dua karena distorsi alam? Tentang jiwa yang terperangkap di dimensinya sendiri? Well, saya dapet idenya dari situ. Maaf kalau penyampaiannya kurang jelas. Tapi akhirnya saya nulis yang tokohnya Hiruma juga. Dan walaupun cerita ini kurang pas untuk “Ghost Stories“. Haha. Maaf untuk request yang belum terpenuhi, makasih udah baca! RnR?

%d blogger menyukai ini: